![]() |
| Jobert Abma |
Teknologi Unik - Setiap anak punya potensi untuk jadi sukses meski saat masih kecil mereka kerap berbuat jahil, seperti yang dialami oleh Jobert Abma. Pria 25 tahun yang kini terkenal sebagai hacker pemburu uang bayaran sekaligus pendiri dari startup HackerOne.
Sejak usia 13 tahun, Abma sudah akrab dengan dunia hacker dan rajin meretas komputer yang ada di sekitarnya. Suatu hari saat Abma berulang tahun, dia menerima sebuah tidak biasa dari sahabatnya Michiel Prins berupa password dan usernam dari sebuah situs TV lokal.
Setelah menerima hadiah itu, langsung saja keduanya mengambil alih kontrol si stasiun TV dan menayangkan siaran buatan mereka sendiri. Karena usianya lebih tua dari Abma, Prins lah yang akhirnya dihukum akibat ulah peretasan stasiun televisi berupa layanan masyarakat selama 25 hari. Namun, dari situlah semuanya berubah.
Setelah melewati masa remaja yang 'liar' itu, Abma dan Prins akhirnya melanjutkan kuliah ke Universitas Hanze di Belanda. Di sana mereka menemukan sebuah bug atau kesalahan sistem yang ada pada sistem penilaian mahasiswa.
Bukannya memanfaatkan bug itu untuk menaikkan nilai, keduanya melaporkan adanya bug itu ke developernya dan pihak universitas. Dari situ universitas Hanze mempekerjakan Abma dan Prins untuk mengetes ada tidaknya kerentanan pada website kampus. Uang dari kampus itu mereka gunakan untuk membayar 'SPP'.
Perlu diketahui, saat itu umur Abma masih 19 tahun, sementara Prins 20 tahun. Tetapi, bekerja untuk universitas membuat mereka mengantongi uang Rp 100 juta lebih per minggunya.
Setelah cukup mendapat pengalaman di Belanda, Abma dan Prins lantas pindah ke San Francisco untuk mendirikan startup bernama HackerOne. Mereka juga mengajak Merijin Terheggen dan Alex Rice, mantan Ketua Divisi Keamanan Produk Facebook.
HackerOne menawarkan layanan unik dimana perusahaan klien dapat meminta mereka untuk meretas website perusahaan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk menemukan bug, semakin berbahaya bugnya, maka uang bayaran yang HackerOne terima semakin besar.
Klien HackerOne pun sudah beragam, mulai dari Twitter, General Motors, Yahoo, Uber, hingga Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Saat ini HackerOne sudah memiliki 500 klien dan 50 pegawai. Kini Abma pertahunnya bisa mengantongi Rp 1,3 miliar lebih, dan untuk tahun 2015 Abma menargetkan bisa mendapatkan keuntungan 5 kali lipat!


No comments:
Post a Comment